KEPRIBADIAN DAN EMOSI

KEPRIBADIAN DAN EMOSI

KEPRIBADIAN

Kepribadian adalah jumlah total cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan lainnya. Kepribadian paling sering digambarkan berdasar ciri-ciri yang dapat diukur yang diperlihatkan seseorang.

Penentu-penentu kepribadian

  1. 1. Keturunan

Merujuk ke faktor-faktor yang ditentukan sejak lahir. Ukuran fisik, daya tarik wajah, jenis kelamin, temperamen, komposisi dan reflek otot, level energi, dan ritme biologis adalah karakteristik yang umumnya dianggap entah sepenuhnya atau secara substansial dipengaruhi oleh siapa orang tua anda, yakni, susunan biologis, fisiologis, dan psikologis inheren mereka. Pendekatan keturunan berpendapat bahwa penjelasan terakhir tentang kepribadian seseorang adalah struktur molekul dari gen yang terdapat dalam kromosom.

  1. 2. Lingkungan

Di antara faktor-faktor yang memberikan tekanan pada pembentukan kepribadian kita adalah kebudayaan di mana kita dibesarkan; pengkondisian awal kita; norma di tengah keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Faktor-faktor lingkungan ini memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian kita. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikut dan menciptakan konsistensi selama bertahun-tahun.

  1. 3. Situasi

Situasi mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan pada kepribadian. Kepribadian individu, walaupun umumnya stabil dan konsisten, berubah dalam situasi-situasi yang berbeda. Tuntutan yang beragam dari situasi yang berbeda menimbulkan aspek yang berbeda pada kepribadian seseorang. Oleh karena itu, kita hendaknya kita tidak melihat pola-pola kepribadian secara terpisah.

Ciri-ciri Kepribadian

Karakteristik-karakteristik yang bertahan lama yang menggambarkan perilaku individu. Karakteristik yang populer antara lain adalah rasa malu, keagresifan, kepatuhan, kemalasan, ambisi, kesetiaan, dan ketakutan. Semakin konsisten karakteristik tersebut dan semain sering terjadi dalam berbagai situasi, maka semakin penting ciri-ciri tersebut dalam menggambarkan individu.

Pencarian Awal Atas Ciri-ciri Utama. Hasilnya adalah identifikasi atas 16 faktor kepribadian, yang disebut sebagai ciri sumber, atau utama. Ke-16 ciri ini umumnya dianggap sebagai sumber perilaku yang terus menerus dan mantap, yang memungkinkan prediksi atas perilaku individu dalam situasi spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik-karakteristik untuk mendapatkan relevansi situasionalnya.

Indikator Tipe Myers-Briggs. Indikator yang pada hakikatnya merupakan tes kepribadian dengan 100 pertanyaan yang menanyakan kepada seseorang bagaimana mereka biasanya merasa atau bertidak dalam situasi-situasi tertentu.

Berdasarkan jawaban-jawaban yang diberikan indivdu-individu terhadap tes itu, para individu tersebut diklasifikasikan sebagai ekstrofet atau introfet (E atau I), tajam atau intuitif (S atau N), pemikir atau perasa (T atau F), dan memahami atau menilai  (P atau J). Klasifikasi tersebut kemudian digabungkan menjadi 16 tipe kepribadian. (Tipe-tipe ini berbeda dari 16 ciri utama).

Model Lima Besar. Faktor-faktor lima besar itu adalah:

  • Ekstoversi. Dimensi ini mencakup tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Dimensi kepribadian yang menggambarkan seseorang yang supel, riang, dan percaya diri.
  • Kemampuan untuk bersepakat. Dimensi ini merujuk ke kecenderungan individu untuk tunduk ke yang lain Dimensi kepribaddian yang menggambarkan seseorang yang bersifat baik, kooperatif, da mempercaya.
  • Kemampuan untuk Mendengarkan Suara Hati. Dimensi ni merupakan ukuran dari eandalan. Dimens kepribadian yang menggambarkan seseorang yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, stabil, tertata.
  • Stabilitas Emosi. Dimensi ini membuka jalan bagi kemampuan seseorang untuk bertahan terhadap stres. Dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang sebagai tenang, percaya diri, tentram (positif) versus gugup, tertean, dan tidak tentram (negatif).
  • Keterbukaan terhadap Pengalaman. Dimensi terakhir ini mengukur kisaran minat dan kekaguman individu terhadap hal baru. Dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang berdasar imajinasi, sensitivitas,, dan keingintahuan.

Atribut-atribut Kepribadian Utama yang Mempengaruhi OB

Atribut-atribut kepribadian spesifik yang ternyata merupakan indikator yang berpengaruh dalam memperkirakan perilaku dalam organisasi.

  1. Lokus kendali, tingkat di mana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri yang ada di hidupnya.
  2. Machiavalisme, tingkat di mana individu bersifat pragmatis, menjaga jarak emosi, dan yakin bahwa tujuan dapat membentuk cara.
  3. Harga-diri, yaitu tingkat dimana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri.
  4. Pemantauan diri, yaitu ciri kepribadian yang mengukur kemampuan individu untuk menyesuaikan perilakunya terhadap faktor-faktor eksternal situasional.
  5. Kecenderungan untuk menempuh risiko, yaitu kemampuan dan keinginan melawan arus untuk mengharapkan keuntungan.
  6. Kepribadian tipe A, yaitu keterlibatan agresif dalam perjuangan bertahun-tahun tiada henti untuk meraih lebih banyak dalam waktu yang semakin sedikit dan, jika perlu , melawan upaya-upaya lain atau orang lain yang menentang.

Kepribadian dan Kebudayaan Nasional

Terdapat bukti bahwa kebudayaan berbeda berdasar hubungan orang dengan lingkungan mereka. Dalam sebagian budaya, seperti di Amerika Utara, orang percaya bahwa mereka dapat mendominasi lingkungan mereka. Orang di negara lain, seperti negara-negara Timur Tengah, yakin bahwa kehidupan sebenarnya sudah diatur sebelumnya.

Mencapai Kecocokan Kepribadian

Kecocokan orang dan pekerjaan. Teori Kecocokan kepribadian-pekerjaan mengidentifikasi enam tipe kepribadian dan mengusulkan bahwa kecocokan antara tipe kepribadian dan lingkungan kerja menentukan kepuasan dan pengunduran diri. Kecocokan organisasi orang. Kecocokan organisasi-orang pada hakikatnya berpendapat bahwa orang akan meninggalkan pekerjaannya yang tidak cocok dengan pekerjaanya.

EMOSI

Pengaruh adalah istilah umum yang meliputi kisaran luas perasaan yang dialami manusia. Pengaruh merupakan suatu konsep payung yang menaungi baik emosi maupun suasana hati. Emosi adalah perasaan kuat yang diarahkan ke seseorang atau sesuatu. Akhirnya, suasana hati adalah perasaaan yang cenderung menjadi kurang kuat dibandingkan dengan emosi, dan yang tidak mempunyai stimulus kontestual.

Emosi yang Dirasakan Versus Emosi yang Ditampilkan

Emosi yang dirasakan adalah emosi aktual individu. Sebaliknya, emosi yang ditampilkan adalah emosi yang dituntut oleh organisasi dan dianggap tepat dalam pekerjaan tertentu. Emosi semacam ini bukan merupakan pembawaan lahir, emosi-emosi tersebut dipelajari.

Dimensi-Dimensi Emosi

Perbedaan. Jumlah emosi mencapai lusinan. Termasuk di sini adalah perasaan kemarahan, perasaan jijik, bergairah, cemburu, takut, kecewa, bahagia, benci, berharap, iri, gembira, cinta, bangga, heran, sedih.

Intensitas. Orang memberikan tanggapan yang berbeda terhadap rangsangan pemicu-emosi yang identik. Dalam sebagian kasus perbedaan itu dapat disebabkan oleh kepribadian individu. Pada saat lain, perbedaan itu merupakan hasil dari tuntutan pekerjaan.

Frekuensi dan durasi. Yaitu seberapa sering satu emosi itu diperhatikan dan untuk berapa lama.

Jenis Kelamin dan Emosi

Bukti justru mengukuhkan pebedaan antara pria dan wanita mengenai reaksi emosional dan kemampuan untuk membaca orang lain. Wanita menunjukkan ungkapan emosi yang lebih besar daripada pria, mereka menglami emosi lebih hebat, dan mereka lebih sering menampilkan ekspresi dari emosi baik yang positif maupun negatif, kecuali kemarahan. Bertolak belakang dengan pria, wanita juga dilaporkan lebih nyaman dalam mengungkapkan emosi. Akhirnya, wanita lebih baik dalam membaca isyarat-isyarat nonverbal dan paralinguistik dibanding pria.

Batasan-batasan Eksternal terhadap Emosi

Setiap organisasi mendefinisikan batas-batas yang mengidentifikasi emosi-emosi apa yang dapat diterima dan sejauh mana dapat dingkapkan. Hal yang sama berlaku juga dalam kebudayaan yang berbeda, yaitu :

  1. Pengaruh Organisasi
  2. Pengaruh Kebudayaan

Aplikasi-aaplikasi OB

Kemampuan dan Seleksi. Orang yang mengetahui emosi mereka sendiri dan bisa dengan baik membaca emosi orang lain bisa menjadi lebih efektif dalam pekerjaan mereka.

Kecerdasan Emosional. Kumpulan keteramplan, kemampuan dan kompetisi nonkognitif yang mempenaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dan memenuhi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Pengambilan keputusan. Emosi-emosi negatif dapat mengakibatkan terbatasnya pencarian alternatif baru dan kurang cermatnya penggunaan informasi. Di phak lain, emsi-emosi positif dapat meningkakan pemecahan masalah dan memudahkan integrasi informasi.

Motivasi. Teori motivasi pada dasarnya mengemukakan bahwa individu-individu “termotivasi ke perilaku yang diharapkan dapat membaa hasil yang diinginkan. Citranya adalah adalah pertukaran rasional : karyawan pada hakikatnya menukar usaha untuk mendapatkan upah, tunjangan, promosi, dan lain-lain.

Kepemimpian. Pemimpin yang efektif hampir semuanya mengandalkan ekspresi perasaaan untuk membantu menyampaikan pesan mereka. Sesungguhnya, ungkapan emosi dalam pidato sering menjadi unsur penting yang mengakibatkan individu menerima atau menolak pesan seorang pemimpin.

Konflik interpersonal. Keberhasilan manajer dalam upayanya untuk menyelesaikan konflik, sering sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengidentifikasi unsur-unsur emosional dalam konflik dan mengarahkan pihak-pihak yang bertikai agar berhasil mengatasi emosi mereka.

Perilaku Menyimpang di Tempat Kerja. Emosi-emosi negatif dapat menimbulkan sejumlah perilaku menyimpang di tempat kerja. Penyimpangan karyawan tersebut berupa tindakan-tindakan sukarela yang melanggar norma yang berlaku dan yang mengancam organisasi, para anggotanya, atau keduanya.

CHAPTER V

PERSEPSI dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU

Persepsi adalah proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Persepsi itu penting dalam studi OB semata-mata karena perilaku menusia didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada, bukan mengenai realitas itu sendiri. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia yang penting dari segi perilaku.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI

  1. Faktor Pada Pemersepsi :
    1. Sikap
    2. Motif
    3. Kepentingan
    4. Pengalaman
    5. Pengharapan
  2. Faktor Dalam Situasi :
    1. Waktu
    2. Keadaan Tmpat Kerja
    3. Keadaan sosial
  3. Faktor Pada Target
    1. Hal Baru
    2. Gerakan
    3. Bunyi
    4. Ukuran
    5. Latar Belakang
    6. Kedekatan


PERSEPSI ORANG : MEBUAT PENILAIAN MENGENAI ORANG LAIN

Teori Atribusi

Dikemukakan untuk mengembangkan penjelasan mengenai cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung pada makna apa yang kita kaitkan pada perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori itu mengemukakan bahwa bila kita mengamati perilaku individu, kita berusaha menentukan apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor internala atau eksternal.

Kita mempunyai kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor eksternal dan melebih-lebihkan pengaruh faktor internal atau faktor-faktor pribadi ketika membuat penilaian tentang perilaku orang lain yang biasa disebut dengan kekeliruan atribusi mendasar.

Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Orang Lain

Persepsi selektif. Orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka lihat atas dasar kepentingan, latar belakang, pengalaman, dan sikap mereka.

Efek Halo. Menggambarkan kesan umum tentang individu ats dasar karakteristik tunggal.

Efek Kontras. Evaluasi terhadap karakteristik-karakteristik seseorang yang terpengaruh oleh perbandingan-perbandingan dengan orang lain yang baru masuk yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah berdasar karakteristik-karakteristik yang sama.

Proyeksi. Mencirikan karakteristik-karakteristik pribadi seseorang ke orang lain.

Membuat Stereotipe. Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok di mana orang itu bergabung.

Penerapan Khusus dalam Organisasi

Wawancara Karyawan. Masukan yang besar bagi masalah siapa yang akan dipekerjakan dan siapa ditolak dalam setiap organisasi adalah masukan dari wawancara karyawan. Namun bukti menunjukkan bahwa wawancara sering menghasilkan penilaian perseptual yang tidak tepat. Di samping itu, kecocokan di antara para pewawancara sering buruk; yaitu pewawancara yang berlainan melihat hal-hal yang berlainan dalam diri calon yang sama dan oleh karena itu sampai kepada kesimpulan yang berlainan mengenai pelamar tersebut.

Pengharapan Kinerja. Terdapat sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang akan berupaya mensahihkan persepsi mereka terhadap realitas, meskipun persepsi ini keliru. Istilah kecenderungan terjadinya apa yang dipikirkan (self-fullfilling prophecy) atau efek pigmalion berkembang untuk mencirikan kenyataan bahwa perkiraan orang menentukan perilaku mereka.

Evaluasi Kinerja. Penilaian kinerja karyawan sangat bergantung pada proses persepsi. Masa depan karyawan erat terikat pada penilaian dalam evaluasi-promosi, kenaikan upah, dan diteruskannya pengkaryaan merupakan contoh hasil yang jelas dari evaluasi.

Upaya Karyawan. Dalam banyak organisasi, tingkat upaya karyawan dinilai sangat penting.  Penilaian upaya seseorang merupakan pertimbangan subyektif yang rawan terhadap distorsi-distorsi dan bias perseptual.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU

Individu-individu dalam prganisasi membuat keputusan. Artinya, mereka membuat pilihan dari dua alternatif lebih.

Pembuatan keputusan sering terjadi sebagai reaksi terhadap masalah. Artinya, terdapat penyimpangan antara keadaan dewasa ini dan keadaan yang diinginkan, yang menuntut pemikiran mengenai tindakan alternatif.

BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA DIAMBIL?

Proses Penambilan Keputusan Rasional

Pengambilan keputusan yang optimal bersifat rasional. Artinya, dia secara konsisten membuat pilihan yang memaksimalkan nilai dalam batas-batas tertentu. Pilihan-pilihan ini dibuat dengan mengikuti model pengambilan keputusan rasional enam –langkah. Lebih lanjut, terdapat asumsi-asumsi khusus yang mendasari model ini.

Model rasional. Langkah-langkah dalam Model Pembuatan Keputusan Rasional

  1. Mendefinisi masalah
  2. Mengidentrifikasi kriteria keputusan
  3. Mengalokasikan bobot terhadap kriteria
  4. Mengembangkan alternatif
  5. Mengevaluasi alternatif
  1. 6. Memoilih alternatif terbaik

Asumsi Model. Model pengambilan keputusan rasional berisi sejumlah asumsi.

  1. 1. Kejelasan masalah
  2. 2. Pilihan-pilihan yang diketahui
  3. 3. Pilihan yang jelas
  4. 4. Pilihan yang konstan
  5. 5. Tidak ada batasan waktu dan biaya
  6. 6. Hasil keputusan maksimum

Menigkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas, yakni, kemampuan untuk memproduksi gagasan-gagasan baru dan bermanfaat. Kreativitas memungkinkan pengambil keputusan untuk lebih menyeluruh dalam menilai dan memahami masalah, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain. Akan tetapi, nilai paling mencolok dari kreativitas adalah perannya dalam membantu pengambil keputusan mengidentifikasisemua alternatif yang dapat dilihat.

Potensi Kreatif. Sebagian besar orang mempunyai potensi kreatif yang dapat mereka gunakan bila dihadapkan pada suatu masalah pengambilan keputusan. Mamun untuk memberdayakan potensi itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang banyak diikuti oleh sebagian dari kita dan belajar bagaimana memikirka satu masalah dengan cara yang berlainan. Sebagian besar dari kita mempunyai potensi kreatif, kita hanya perlu belajar untuk membebaskannya.

Model Kreatifitas Tiga Komponen. Proporsi bahwa kreativitas individual mensyaratkan keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi tugas intrinsic.

BAGAIMANA KEPUTUSAN SEBENARNYA DIAMBIL DALAM ORGANISASI?

Berikut ini adalah kajian terhadap banyak bukti untuk memberikan deskripsi yang lebih akurat tentang cara sesungguhnya sebagian besar keputusan dalam organisasi diambil.

Rasionaliitas Terbatas (Bounded Rationality)

Individu membuat keputusan dengan membangun model yang disederhanakan yang menyaring fitur-fitur esensial dari masalah tanpa perlu menangkap semua kerumitannya. Salah satu aspekyang lebih menarik dari model rasionalitas terbatas adalah bahwa urutan pertimbangan alternatif-alternatif akan sangat menentukan keberhasilan pemikiran alternatif mana yang dipilih.

Intuisi

Pembuatan keputusan intuitif sebagai proses bawah sadar yang diciptakan dari penglaman yang tersaring. Intuisi tidak harus berjalan secara independen dengan analisis rasional; lebih tepat, keduanya bersifat saling melengkapi.

Terdapat delapan kondisi yang teridentifikasi paling besar untuk menggunakan pengambilan keputusan intuitif:

  1. 1. Bila terdapat ketidakpastian yang tinggi
  2. 2. Bila terdapat hanya sedikit perseden yang bisa diikuti
  3. 3. Bila variabel-variabel kurang dapat diperkirakan secara ilmiah
  4. 4. Bila terdapat keterbatasan “fakta”
  5. 5. Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk ditempuh
  6. 6. Bila data analitis kurang berguna
  7. 7. Bila terdapat beberapa penyelesaian alternatif yang masuk akal untuk dipilih, dengan alasan yang baik untuk masing-masing alternatif itu
  8. 8. Bila waktu terbatas dan terdapat tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat

Identifikasi Masalah

Masalah-masalah yang mudah dilihat cenderung berkemungkinan lebih besar untuk dipilih dibanding dengan masalah-masalah yang penting. Terdapat dua alasan, pertama, masalah-masalah yang tampak berkemungkinan lebih besar untuk menarik perhatian pembuat keputusan. Kedua, Perlu diingat bahwa pokok perhatian kita adalah pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin terlihat kompeten dan “mampu mengatasi masalah”. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian pada masalah yang tampak bagi orang lain.

Pengembangan Alternatif

Karena para pengambil keputusan jarang mencari pemecahan yang optimal, melainkan pemecahan masalah yang lebih memuaskan, kita dapat memperkirakan terjadinya penggunaan minimal atas kreativitas dalam mencari alternatif-alternatif. Dan perkiraan-perkiraan itu umumnya sesuai dengan target.

Pembuatan Pilihan

Untuk menghindari kelebihan beban informasi, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik, atau jalan pintas, dalam pengambilan keputusan. Terdapat dua kategori umum heuristik:

  1. Heuristik ketersediaan, yakni kecenderungan orang untuk mendasari penilaian dengan informasi yang sudah ada di tangan mereka.
  2. Heuristik representatif, yaitu menilai kemungkinan kejadian dengan menggambarkan analogi-analogi dan melihat situasi-situasi identik yang di situ tidak terdapat keidentikan.

Perbedaan Individu: Gaya Pengambilan Keputusan

Model Gaya-Keputusan

  1. Tipe Analitik.
  2. Tipe Konseptual
  3. Tipe Direktif
  4. Tipe Behavioral

Hambatan Organisasi

Organisasi itu sendiri merupakan penghambat bagi para pengambil keputusan. Keputusan-keputusan organisasi terdahulu juga bertindak sebagai preseden yang dapat membatasi keputusan saat ini.

Evaluasi kerja. Pengambilan keputusan para manajer sangat dipengaruhi oleh kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi mereka.

Sistem Imbalan. Sistem imbalan organisasi mempengaruhi pengambil keputusan dengan menyatakan ke mereka pilihan apa yang lebih bermanfaat bagi diri pribadi.

Aturan Formal. Dengan memprogram keputusan, organisasi mampu membuat individu mencapai level kinerja tinggi tanpa membayar pengalaman masa bakti bertahun-tahun yang disyaratkan jika tidak ada regulasi. Dan tentu saja, dengan berbuat demikian, mereka membatasi pilihan pengambil keputusan.

Pembatasan Waktu yang Diberlakukan Sistem. Organisasi-organisasi memberlakukan tenggat waktu atas keputusan-keputusan.

Preseden-preseden Historis. Keputusan tidak diambil secara kosong. Keputusan selalu mempunyai konteks. Sesungguhnya, masing-masing keputusan itu lebih akurat dicirikan sebagai serangkaian titik dalam aliran keputusan.

Keputusan-keputusan yang diambil pada masa lalu merupakan arwah yang terus menerus membayangi pilihan saat ini.

Perbedaan Budaya

Kebudayaan, misalnya, berbeda menurut orientasi waktu, arti penting rasionalitas, keyakinan mereka akan kemampuan orang untuk memecahkan masalah, dan pilihan mereka untuk pengambilan keputusan kolektif.

Tiga Kriteria Keputusan Etis

  1. Kriteria utilitarian, yang di dalamnya keputusan-keputusan diambil semata-mata atas dasar hasil atau konsekuensi tindakan. Tujuan utilitarianisme adalah memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar
  2. Menekankan ke hak. Kriteria ini menuntut individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendaasr seperti dikemukakan dalam dokumen-dokumen seperti Piagam Hak Asasi.
  3. Berfokus pada keadilan. Kriteria ini mensyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga pembagian manfaat dan biaya pantas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: