VARIABLE COSTING

CHAPTER 15

VARIABLE COSTING

Ada dua pendekatan yang digunakan untuk menentukan harga pokok produk dengan tujuan untuk melakukan penilaian persediaan dan penentuan harga pokok penjualan. Pendekatan  itu adalah absorption costing dan variable costing.

ABSORPTION DAN VARIABLE COSTING

Absorption costing membebankan biaya tetap dan biaya variabel ke produk-biaya tersebut digabungkan dengan cara tertentu sehingga menyulitkan para manajer membedakannya. Variable costing memfokuskan pada perilaku biaya. Keunggulannya adalah bawa pendekatan variable costing sesuai dengan pendekatan kontriusi den konsep biaya.

Absorption Costing

Absorption Costing memperlakukan semua biaya produksi sebagai harga pokok tanpa memperhatiakan apakah biaya tersebu variabel atau tetap. Metode ini disebut juga full costing.

Variable Costing

Dengan menggunakan variable costing, hanya biaya produksi yang berubah-ubah dengan output yang diperlakukan sebagai harga pokok. Pada umumnya terdiri dari bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Metode ini sering juga disebut direct costing atau marginal costing.

Perhitungan biaya per unit

Absorption Costing Variable Costing
Biaya Produksi Bahan Langsung

Tenaga Kerja Langsung

Overhead pabrik variabel

Overhead pabrik tetap

Bahan langsung

Tenaga kerja langsung

Overhead pabrik vaiabel

Biaya Periodik Beban penjualan dan administrasi Overhead pabrik tetap

Beban penjualan dan administrasi

PERBANDINGAN LAPORAN LABA RUGI ABSORPTION DAN VARIABLE COSTING

  1. Dengan menggunakan absorption costing, jika ada peningkatan persediaan maka beberapa biaya produksi tetap dalam periode berjalan tidak akan tampak dalam laporan keuangan sebagai bagian dalam HPP.
  2. Dengan menggunakan variable costing, seluruh biaya tetap dalam biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan.
  3. Persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibandingkan dengan metode absorption costing. Alasannya adalah bahwa dengan menggunakan variable costing, hanya biaya produksi variabel yang dibebankan ke unit yang diproduksi dan oleh karenanya dimasukkan dalam persediaan.
  4. Metode absrption costing tidak membuat pembedaan antara biaya variabel dan biaya tetap. Oleh arenanya metode ini tidak cocok untuk perhitungan biaya-volume-laba yang sangat penting untk perencanaan dan pengendalian.
  5. Pendekatan variable costing untuk menentukan biaya per unit prduksi selaras dengan pendekatan kontribusi karena kedua konsep tersebut didasarkan pada klasifikasi biaya berdasarkan perilakunya.

Pada dasarnya perbedaan antara kedua metode ini terletak pdaa waktu (timing). Variable costing menentukan bahwa biaya overhead tetap harus dibebankan segera sedangkan absobtion costing menyatakan bahwa biaya overhead pabrik tetap harus dibebankan dan dikurangan dari pendapatan untuk setiap unit yang terjual.

PERBANDINGAN DATA PENDAPATAN

Hubungan antara produksi dan penjualan Dampak terhadap persediaan Hubungan antara laba dengan metode absorbtion dan variable costing
Produksi = penjualan Tidak ada perubahan persediaan Laba bersih absorbtion costing > la bersih variable costing
Produksi > penjualan Persediaan meningkat Laba bersih absorbtion costing = laba bersih variable costing
Produksi < penjualan Persediaan menurun Laba bersih absorbtion costing = laba bersih variable costing

DAMPAK PERUBAHAN PRODUKSI TERHADAP LABA BERSIH

Pada Variable Costing, laba bersih tidak terpengaruh oleh perubahan produksi. Sebaliknya, laba bersih terpengaruh oleh perubahan produksi apabila perusahaan menggunakan metode absorption costing.

MEMIlLIH METODE COSTING

Untuk memilih metode costing, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh manajer adalah sebagai berikut :

Analisis Biaya-Volume-Laba dan Absorption Costing

Absorption costing digunakan secara luas baik untuk laporan internal maupun eksternal. Beberapa perusahaan menggunkan pendekatan absorption costing karena pendekatan tersebut fokus terhadap full costing unit produksi. Kelemahan dari metode ini adalah ketidakmampuannya menghubungkan dengan analisis biaya-volume-laba.

Pembuatan Keputusan

Masalah pokok absorption costing adalah bahwa biaya overhead pabrik tetap tampak seperti bervariael dengan unit yang terjual padalah sesungguhnya tidak. Kesalahan persepsi bahwa biaya produksi per unit dengan absorption costing dapat mengakibatkan muncunya masalah manajerial, termasuk keputusan penentuan harga dan keputusan untuk menghentikan produksi produk tertentu yang sesuggunya meguntungkan.

Laporan Eksternal dan Pajak Penghasilan

Sering dianggap bahwa absorption costing diguunakan untuk laporan eksternal di USA. Perusahaan yang menggunakan variable costing untuk pelaporan eksternal menghadapi rsiko bahwa auditornya mungkin akan menyatakan laporan tersebut tidak disusun sesuai dengan prinsip Akuntansi berlaku umum.

Meskipun begitu manajer tetap dapat menggunakan variable costing untuk kepentingan internal. Tidak ada masalah akuntansi yang dihadapai dengan penggunaan kedua metode tersebut- variable costing untuk keperluan internal dan absorption costing untuk keperluan eksternal.

Keunggulan Variable Costing dan Pendekatan Kontribusi

Keuntungan Variable Costing dapat diringkas sebagai berikut :

  1. Data yang akan digunakan untuk melakukan analisis biaya-volume-laba dapat diambil langsung dari laporan laba rugi yang disusun dengan format kontribusi. Data-data tersebut tidak tersedia apabila laporan laba rugi disusun dengan pendekatan konvensional.
  2. Dengan menggunakan variable costing, laba periodik tidak dipengaruhi oleh tingkat persediaan. Dengan asumsi hal-hal lain tetap (harga jual, biaya, bauran penjualanm dan sebagainya) laba akan searah dengan penjualan apabila menggunakan variable costing.
  3. Manajer selalu mengasumsikan bahwa biaya produksi per unit adalah biaya variabel. Hal ini akan menjadi masalah dalam pendekatan absorption costing, karena biaya produksi per unit adalah kombinasi biaya variabel dan biaya tetap. Dengan menggunakan variable costing, biaya produksi per unit tidak mengandung biaya tetap.
  4. Dampak biaya tetap terhadap laba lebih ditekankan dalam variable costing, dan pendekatan kontibusi. Jumlah total biaya tetap dinyatakan secara eksplisit dalam laporan laba-rugi. Dengan menggunakan absorption costing, biaya tetap dicampur dengan biaya tetap dan dialokasikan ke harga pkook penjualan dan persediaan.
  5. Data variable costing memudahkan estimasi tingkat profitabilitas produk, konsumen dan segmen bisnis yang lain. Denagn absorption costing, profitabilitas tampak samar-samar karena alokasi biaya tetap yang arbitrer.
  6. Variable costing berkaitan dengan metode pengendalian biaya seperti biaya standart dan anggaran fleksibel.
  7. Laba bersih berdasarkan variable costing lebih dekat dengan aliran kas bersih dibandingkan dengan laba bersih berdasarkan absorption costing. Hal ini akan sangat penting untuk perusahaan yang mengalami masalah aliran kas.

Selain karena tradisi, absorption costing masih dipakai karena telah meberikan gambaran pandangan biaya dan pendapatan di mata akuntan dan manajer. Absorption costing memiliki argumen bahwa seluruh biaya produksi harus dibebankan ke produk untuk menaningkan secara tepat biaya produksi dengan pendapatan yang diperoleh dari unit yang terjual. Biaya tetap seperti penyusutan, pajak, asuransi, gaji supervisor, dan sebagainya bersifat esenial terhadap biaya produksi dan diperlakukan sebagai biaya variabel.

Varabel costing berpendapat bahwa biaya produksi tetap bukanlah biaya dari unit produksi tertentu. Biaya tersebut terjadi untuk mencapai kapasitas untuk membuat produk selama periode tertentu dan tetap akan terjadi meskipun tidak ada aktivitas produksi. Oleh karena itu para penganjur variable costing berpendapat bahwa biaya produksi tetap bukanlah bagian dari biaya produksi unit tertentu dan prinsip matching menyatakan bahwa biaya produksi tetap harus dibebankan pada periode berjalan.

Pada tingkat tertentu, absorbtion costing diterima sebagai metde yang digunakan untuk menyiapkan laporan eksternal yang diwajibkan dan laporan pajak penghasilan. Dengan alasan biaya dan kemungkinan kebingungan untuk membuat sistem costing ganda, kebanyakn perusahaan menggunakan absorption costing untuk laporan eksternal dan internal.

Variable Costing dan Teori Kendala

Format variable costing digunakan dalam teori kendala. Dalam pendekatan teori kendala, tenaga kerja langsung ditetapkan sebagai biaya tetap. Dalam perusahaan yang menerapkan teori kendala, ada dua alasan lain mengapa biaya tenaga kerja langsung diperlakukan sebagai biaya tetap.

  1. Tenaga kerja tidak mesti sebagai kendala. Dalam kasus yang paling sederhana, yang menjadi kendala adalah mesin. Dalam kasus yang lebih kompleks, kendalanya adalah kebijakan. Jika tenaga kerja bukan sebagai kendala, tidak ada alasan untuk menaikkannya. Merekrut lebih banyak tenaga kerja akan meningkatkan biaya tanpa adanya peningkatan output yang dapat dijual baik dalam bentuk barang maupun jasa.
  2. Teori kendala menekankan pada perbaikan yang terus-menerus untuk mempertahankan kemampuan kompetitif. Tanpa komitmen dan tanggapan postif dari karyawan, perbaikan yang berkelanjutan tidak akan terlaksana.

Dengan alasan-alasan ini, banyak manajer di perusahaan yang menerapkan teori kendala mengganggap bahwa tenaga kerja langsung sebagai commited fixed cost dan bukannya biaya variabel. Modifikasi variable costing dalam perusahaan yang menerapkan teori kendala adalah bahwa tenaga kerja langsung tidak dimasukkan sebagi biaya produk.

DAMPAK METODE PERSEDIAAN JIT

Bila perusahaan menggunkan metode JIT, masalah ini sedikit banyak akan berkurang. Berubah-ubahnya laba bersih dengan absorbtion costing dan perbedaan laba bersih diantara kedua metode tersebut disebabkan oleh perubahan unit persediaan. Dengan JIT, barang dipoduksi karena akdanya pesanan dari pelanggan dan tujuannya adalah menghilangkan persediaan barang jadi dan mengurangi persediaan barang dalam proses.dalam kasus tersebut, laba bersih dengan metode absorption costing akan searah dengan pergerakan penjualan. Tentu saja, biaya poduksi per unit akan berbeda antara variable costing dan absorption costing seperti yang telah dibahas di muka. Tetapi dalam metode JIT, perbedaan yang besar tidak akan terjadi lagi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: