Analisa faktor-faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Struktur Pembentuk Gross Domestic Product di Sektor Industri antara Indonesia dan Thailand periode tahun 2000-2005

Analisa faktor-faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Struktur Pembentuk Gross Domestic Product di Sektor Industri antara Indonesia dan Thailand periode tahun 2000-2005

A B S T R A K S I

Krisis  financial yang melanda negara ASEAN tahun 1997 membuat terpuruknya GDP dan Perindustrian Indonesia dan Thailand. Namun Thailand dengan cepat dapat segera keluar dari krisis dan mengalami pertumbuhan perekonomian, khususnya industri yang lebih pesat dibandingkan sebelum krisis dulu sehingga Thailand sangat disegani sebagai new industry country. Sedangkan Indonesia adalah satu-satunya negara yang masih terjerat dalam pengaruh krisis delapan tahun lalu.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perbedaan struktur pembentuk GDP Indonesia dan Thailand, khususnya dalam sektor perindustrian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder.

Dalam penuliasan ini, peneliti menyimpulkan terdapat perbedaan yang mencolok dalam aspek-aspek dasar antara Indonesia dan Thailand yang menyebabkan terjadinya perbedaan struktur pembentuk GDP Indonesia dan Thailand, khususnya dalam sector perindustrian. Aspek – aspek yang tersebut antara lain aspek politik, aspek ekonomi, aspek teknologi, serta aspek penegakan dan kepastian hukum.

Kata Kunci : GDP, Struktur Pembentuk GDP, Industri

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Krisis finansial Asia merupakan krisis finansial yang terjadi pada bulan Juli 1997 di Thailand dimana krisis ini mempengaruhi mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia, termasuk negara-negara Asia Tenggara. Krisis finansial ini memberikan dampak yang cukup parah bagi Indonesia dan Thailand.

Perekonomian Thailand tahun 1985 sampai tahun 1995 mengalami pertumbuhan yang cukup baik dimana rata-rata mencapai 9%. Perekonomian Thailand kemudian mengalami perubahan signifikan setelah terjadi spekulasi besar terhadap mata uang Baht pada pertengahan tahun 1997. Mata uang Baht melemah dan jatuh ke titik terendah di 56 terhadap dollar AS pada bulan Januari 1998. Perusahaan-perusahaan Thailand terancam pailit, bahkan Finance One salah satu perusahaan keuangan Thailand terbesar mengalami kebangkrutan. International Monetary Fund (IMF) memberikan penyelamatan pada perekonomian Thailand melalui pemberian dana sebesar US$ 16 juta (Wikipedia:2003). Bergeraknya roda perekonomian Thailand di level masyarakat menimbulkan penguatan pada ekonomi mikro Thailand. Penguatan ini menjadi kunci utama Thailand keluar dari krisis. Pembangunan ekonomi mikro Thailand dengan memanfaatkan pasar domestik  yang menekankan pada bisnis-bisnis kecil mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pada tahun 2002 mencapai 5% , tahun 2003 mencapai 6,9% dan tahun 2004 mencapai 6,1%

Pertumbuhan dari sektor industri Thailand juga bergerak naik mengikuti pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2000 sektor industri Thailand mencapai US$ 41,2 milliar, tahun 2001 mencapai US$ 38,6 milliar, tahun 2002 mencapai US$ 42,7 milliar, tahun 2003 mencapai US$ 49,7 milliar dan tahun 2004 mencapai 55,4%. Rata-rata laju pertumbuhan sektor industri Thailand selama 5 tahun sebesar 8,4%.

Di pihak lain, perekonomian Indonesia pada periode pertama tahun 1997 menunjukkan kinerja yang cukup baik yang ditandai dengan menguatnya beberapa indikator makro ekonomi. Indonesia memiliki tingkat inflasi yang rendah, perdangan surplus lebih dari US$ 900 juta, persedian mata uang yang besar, lebih dari US$ 20 milliar dan sektor bank yang baik. Namun, kemudian perekonomian Indonesia mengalami perubahan pada pertengahan tahun 1997. Masalah pad perdangan valuta asing di Thailand mempengaruhi pasar valuta asing di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pada akhir tahun 1997 terjadi depresissi riil nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar 68,7%. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut mempengaruhi posisi neraca pembayaran disebabkan jumlah utang luar negeri yang semakin besar. Di samping terganggunya keseimbangan eksternal terjadi pula ketidakseimbangan internal. Pada bulan November 1997, krisis finansial di Indonesia semakin kuat akibat dari devaluasi rupiah.Perusahaan yang meminjam dollar harus menanggung biaya yang lebih besar disebabkan penurunan nilai tukar rupiah. Sebagian besar perusahaan peminjam tersebut mambeli dollar sehingga semakin menurunkan nilai tukar rupiah. Akibatnya pada akhir tahun 1997 terjadi kenikan harga barang sehingga meningkatkan angka inflasi sebesar 11,1%. Angka inflasi ini terus meningkat hingga mencapai 77,6% pada tahun berikutnya. Sedangkan pertumbuhan ekonomi (GDP riil) pada akhir tahun 1997 sebesar 4,7% dan pada akhir tahun 1998 turun sebesar 13,2%.

Krisis finansial ini berdampak sangat negatif terhadap sektor industri yang mengakibatkan beberapa cabang industri harus tumbuh negatif walaupun ternyata masih ada beberapa cabang industri yang masih dapat tumbuh. Pertumbuhan sektor industri Indonesia pada tahun 1997 mengalami penurunan menjadi 6,1% bahakan pada tahun 1998 mencapai -13,1%. Namun dalam perkembangannya, sektor industri Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup baik akibat pulihnya kondisi ekonomi makro. Pada tahun 2000 sektor industri Indonesia mencapai US$ 41,9 milliar, tahun 2001 mencapai US$ 92,6 milliar, tahun 2002 mencapai  US$ 117,7 milliar, tahun 2003 turun menjadi US$ 68,8 milliar dan pada tahun 2004 naik kembali menjadi US$ 71,6 milliar. Rata-rata laju pertumbuhan sektor industri Indonesia selama 5 tahun sebesar 15,16% .

Secara geografis, Indonesia hampir sama dengan Thailand. Ditinjau dari segi sumber daya alam, Indonesia mempunyai kelebihan dengan banyaknya kekayaan alam, seperti barang tambang dan minyak. Dari segi sumber daya manusianya, di Indonesia cukup banyak tersedia dengan upah yang lebih murah dibandingkan dinegara tetangga.. Namun, berdasarkan data bank dunia industri Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain selama periode tahun 1965 hingga 1995 dimana tingkat industri  Indonesia berada pada peringkat paling rendah hingga awal tahun 1990-an. Kontribusi sektor industri pada periode ini hanya sekitar 20% terhadap gross domestic product (GDP) sedangkan Thailand mencapai angka tersebut pada tahun 1980-an (Siallagan:2006).

Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu analisa mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaaan struktur pembentuk GDP pada sektor industri  antara Indonesia dan Thailand periode tahun 2000 sampai tahun 2004.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian di atas maka dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan struktur pembentuk gross domestic product pada sektor industri antara Indonesia dan Thailand periode tahun 2000 sampai tahun 2004 ?
  2. Bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi perbedaan struktur pembentuk gross domestic product pada sektor industri antara Indonesia dan Thailand periode tahun 2000 sampai tahun 2004 ?

1.3 Batasan Masalah

Agar memudahkan dalam mengkaji masalah yang diangkat , maka penulisan ini mengemukakan batasan masalah sebagai berikut :

  1. Sektor struktur pembentuk gross domestic product yang dibahas adalah sektor industri dengan pendekatan produksi dengan perhitungan nominal.
  2. Periode yang digunakan sebatas tahun 2000 sampai tahun 2004.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ilmiah ini adalah:

  1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan struktu pembentuk gross domestic product pada sektor indutri antara Indonesia da Thailand periode tahun 2000 sampai tahun 2004
  2. Mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap perbedaan struktur pembentuk gross domestic product pada sektor industri antar Indonesia dan Thailand periode tahun 2000 samapi tahun 2004 ?

1.5 Manfaat Penelitian

Karya tulis ilmiah diharapkan dapat memberikan manfaat sebagi berikut:

  1. Manfaat praktis
  1. Dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijaksanaan untuk meningkatkan pertumbuhan gross domestic product.
  2. Dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai pertumbuhan gross domestic product pada sektor industri periode tahun 2000 sampai tahun 2004.
    1. Dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.
  3. Bagi peneliti, mermberikan pengalaman dalam pembuatan karya tulis ilmiah.
  1. Manfaat teoritis

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 GROSS DOMESTIC PRODUCT

2.1.1          Pengertian Gross Domestik Produk

Dari semua konsep dalam ilmu makroekonomi, satu-satunya ukuran yang paling penting adalah Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product=GDP), yang mengukur total nilai barang dan jasa yang dihasilkan pada suatu negara. GDP merupakan bagian dari pendapatan nasional dan perhitungan produk (atau perhitungan nasional), yang merupakan kumpulan statistik yang memungkinkan para pembuat kebijakan menentukan apakah perekonomian mengalami kontraksi atau ekspansi dan apakah resesi atau inflasi yang berat mengancam. (Samuelson 2000)

GDP juga dapat didefinisikan sebagai pendapatan nasional yang diukur menurut pendekatan output ; sama dengan jumlah semua nilai tambah pada perekonomian atau sama juga dengan nilai semua barang jadi yang dihasilkan dalam perekonomian. (Lipsey, 1995).

Berbeda dengan pendapat Case dan Fair dalam bukunya Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro, GDP adalah nilai pasar keluaran  total sebuah negara. Itu adalah nilai pasar semua barang jadi dan jasa akhir yang diproduksi selama periode waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berlokasi di dalam sebuah negara.

GDP hanya menyangkut produksi terbaru. Keluaran yang sudah dipakai tidak digunakan untuk menghitung GDP sekarang karena sudah dihitung keawal saat diproduksi. Itu akan menimbulkan perhitungan ganda bila penjualan barang yang sudah terpakai digunakan dalam menghitung GDP sekarang. Penjualan saham dan obligasi tak diperhitungkan dalam GDP. Penjualan-penjualan itu merupakan pertukaran aktiva kertas dan tidak berhubungan produksi terbaru. Singkatnya, GDP mengabaikan semua transaksi dimana uang atau barang berpindah tangan namun pada transaksi itu tidak ada barang dan jasa baru yang diproduksi. (Case, 2004).

Tiga faktor produksi dasar adalah tanah, tenaga kerja dan modal. Tenaga kerja diperhitungkan sebagai faktor produksi milik domestik. Keluaran yang diproduksi oleh warga negara di luar negeri tidak diperhitungkan dalam GDP. Laba yang diperoleh di luar negeri juga tidak diperhitungkan dalam GDP, tetapi keluaran yang diproduksi orang asing di dalam negeri dihitung dalam GDP karena keluaran diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan milik asing. (Case, 2004).

Selain itu pengertian GDP dalam makro ekonomi adalah jumlah output total yang dihasilkan dalam batas wilayah suatu negara selama satu tahun. Contohnya adalah mobil-mobil yang dihasilkan Ford (perusahaan milik amerika) dari pabriknya yang ada di Inggris, tidak masuk kedalam GDP Amerika Serikat tetapi nilai mobil-mobil itu masuk ke dalam GDP Inggris. (Samuelson,1997). Sangat pentingnya GDP sebagai konsep kerja tidak dapat dilebih-lebihkan. Sama seperti sebuah perusahaan individual yang perlu mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan operasinya setiap tahun, begitu juga perekonomian, memberi kita kartu laporan perekonomian negara. (Case, 2004).

2.1.2         Pendekatan Perhitungan GDP

Ada tiga cara untuk menghitung pendapatan nasional yaitu dengan pendekatan Pendapatan, pendekatan Pengeluaran dan pendekatan Produksi. Menghitung GDP dengan Pendekatan Pendapatan :

Menurut Samuelson, ada 4 instrumen pendapatan :

  • Profit (Laba), yaitu sejumlah hasil yang diperoleh oleh perusahaan, bila pendapatannya lebih tinggi dari pengeluarannya.
  • Rent (Sewa), yaitu sejumlah nilai yang dihasilkan dari usaha meminjamkan faktor-faktor produksi.
  • Wage (Upah), yaitu sejumlah nilai yang dihasilkan dari hasil pekerjaan sebagai hak setelah melakukan kewajiban.
  • Interest (Bunga), yaitu sejumlah penambahan nilai yang didapatkan dalam jangka waktu dan persentase yang ditetapkan.

Dengan menjumlahkan keempat instrumen pendapatan diatas, maka akan didapatkan rumusan :               GDP   = R + W + I + P

Menurut Case, pendekatan pendapatan terhadap GDP menguraikan GDP kedalam empat komponen : pendapatan nasional, depresiasi, pajak tidak langsung kurang subsidi dan pembayaran faktor bersih (netto) ke luar negeri.

GDP = pendapatan nasional + depresiasi + (pajak tak langsung-subsidi) + pembayaran faktor netto ke luar negeri.

  • Pendapatan nasional adalah pendapatan total yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki warga negara suatu negara. Pendapatan nasional adalah penjumlahan dari kompensasi karyawan, pendapatan perusahaan perseorangan, laba perusahaan PT dan  pendapatan sewa.
  • Depresiasi adalah ukuran atas penurunan nilai aktiva, ketika aktiva modal aus atau menjadi ketinggalan jaman.
  • Pajak tak langsung minus subsidi

Pajak tak langsung adalah pengeluaran rumah tangga atau perusahaan yang membeli sesuatu tetapi tidak termasuk pendapatan perusahaan yang menjual produk-produk itu. Contoh pajak tak langsung seperti pajak penjualan, bea cukai dan biaya lisensi.

Subsidi adalah pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah tanpa mendapatkan imbalan atau jasa. Subsidi dikurangkan dari pendapatan nasional untuk mendapatkan GDP.

  • Pembayaran faktor neto untuk luar negeri yaitu pembayaran atas pendapatan faktor untuk luar negeri dikurangi penerimaan pendapatan faktor dari luar negeri.

Menghitung GDP dengan Pendekatan Pengeluaran :

Terdapat empat kategori utama  pengeluaran (Case, 2004)

  • Konsumsi (C) yaitu pengeluaran rumah tangga untuk barang konsumen. Satu bagian besar dari GDP terdiri dari pengeluaran konsumsi pribadi yang merupakan pengeluaran konsumen untuk membeli barang dan jasa.
  • Investasi (I) yaitu pengeluaran perusahaan dan rumah tangga untuk modal baru seperti pabrik, peralatan, persediaan, dan struktur perusahaan baru.
  • Konsumsi dan Investasi pemerintah (G) mencakup pengeluaran pemerintah federal, negara bagian, pemerintah lokal untuk membeli barang-barang akhir (bom, pinsil, bangunan sekolah) dan jasa (gaji pegawai militer, gaji anggota kongres, gaji guru sekolah).
  • Ekspor bersih (EX-IM) Pengeluaran netto oleh luar negeri atau ekspor (EX) yaitu penjualan barang dan jasa keluar negeri dikurangi impor (IM)  pembelian barang dan jasa dari luar negeri.

Pendekatan pengeluaran menghitung GDP dengan menjumlahkan keempat komponen komponon ini. Dalam bentuk persamaan:

GDP = C + I + G + (EX-IM)

Menghitung GDP dengan Pendekatan Produksi

Menghitung GDP dengan Pendekatan Produksi dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu mengalikan harga barang (Price) dengan jumlah barang (Quantity).

GDP =            P . Q

Secara ringkas, terdapat 3 sektor utama dalam pembentukan GDP pendekatan Produksi, yaitu Sektor Primer, Sekunder dan Tersier. Sektor Primer merupakan akumulasi dari total output sektor Pertanian dan Pertambangan. Sektor Sekunder merupakan akumulasi dari sektor Industri, Sektor listrik, gas dan air, dan sektor Konstruksi. Sedangkan Sektor Tersier merupakan akumulasi dari Sektor Perdagangan, hotel dan restoran, sektor Transportasi dan komunikasi, sektor Bank dan Keuangan, Sektor Penyewaan dan Real Estate, dan Sektor Jasa Lainnya.

2.1.3.         GDP dan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi terjadi bila masyarakat mendapat lebih banyak sumber daya atau masyarakat menemukan cara penggunaan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien. Agar pertumbuhan ekonomi dapat menaikkan standar hidup, tingkat pertumbuhan harus melebihi tingkat kenaikan penduduk. Pertumbuhan ekonomi umumnya didefinisikan sebagai kenaikan GDP riil per kapita. GDP riil adalah GDP yang dinilai pada harga-harga periode dasarnya. (Lipsey, 1995).

Ada beberapa faktor yang menyumbang kepada pertumbuhan ekonomi jika kita melihat dari GDP sebagai fungsi, baik dari tenaga kerja maupun modal. (Case, 2004). Kenaikan GDP tersebut dapat muncul melalui:

  • Kenaikan penawaran tenaga kerja

Jika seseorang bergabung dengan sebuah perusahaan di suatu negara maka GDP negara tersebut akan naik. Andaikan orang tersebut bukan merupakan bagian dari angkatan kerja mulai bekerja dan menggunakan waktu dan energinya untuk memproduksi barang maka, keluaran riil akan naik juga. Penawaran tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan keluaran yang lebih banyak.

  • Kenaikan modal fisik atau Sumber Daya Manusia (SDM)

Kenaikan stok modal dapat juga menaikkan keluaran bahkan jika disertai oleh kenaikan angkatan kerja. Modal fisik menaikkan baik produktivitas tenaga kerja maupun menyediakan secara langsung jasa yang bernilai. Investasi dalam modal SDM merupakan sumber lain pertumbuhan ekonomi. Modal SDM dapat diproduksi dengan banyak cara. Orang dapat melakukan investasi bagi dirinya sendiri dengan memasuki perguruan tinggi atau program pelatihan kejuruan. Pemerintah melakukan investasi dalam modal SDM dengan melakukan program-program untuk menyediakan kesehatan dan memberikan pelatihan kerja dan pendidikan sekolah.

  • Kenaikan produktivitas (jumlah produk yang diproduksi oleh masing-masing unit modal atau tenaga kerja).

Pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan oleh kenaikan kuantitas masukan dapat dijelaskan hanya dengan kenaikan produktivitas masukan (setiap masukan tertentu memproduksi lebih banyak keluaran) tersebut.

2.2 I N D U S T R I.

2.2.1      Pengertian Industri

Definisi industri menurut BPS dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan jumlah karyawan yang diserap (Sihaan,2000), yaitu:

Industri besar, dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Industri yang menggunakan mesin sebagai alat produksi dan mempekerjakan karyawan lebih dari 50 orang.
  2. Industri yang tidak menggunakan mesin tetapi mempekerjakan karyawan lebih dari 100 orang.

Industri sedang, juga terbagi menjadi dua

  1. Industri yang menggunakan mesin sebagai alat produksi dan mempekerjakan karyawan antara 5-49 orang.
  2. Industri yang tidak menggunakan mesin tetapi mempekerjakan karyawan antara 10-99 orang.

Industri kecil terbagi menjadi dua

  1. Industri yang menggunakan mesin dan mempekerjakan karyawan antara 1-4 orang.
  2. Industri yang tidak menggunakan mesin tetapi mempekerjakan karyawan antara 1-4 orang.

Industri rumah tangga ialah industri yang mempekerjakan karyawan yang tidak digaji.

Dalam buku Industrialitation and Trade in Indonesia Industri adalah fundamental perkembangan ekonomi secara objektif di Indonesia. Sektor industri ini diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang utama, memberikan konstribusi dengan cepat untuk GDP, menciptakan kesempatan pekerjan yang substansial dan menggerakkan pertukaran mata uang dengan luar negeri secara signifikan. (Poot,1990).

Sedangkan industrialisasi adalah merupakan penjaminan kelangsungan proses pembangunan ekonomi jangka panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkanpeningkatan pendapatan per kapita tiap tahun.()

Jadi industrialisasi bukan hanya dalam arti membangun pabrik lebih banyak tetapi juga menyangkut keterkaitan kegiatan antar sektor ekonomi. (Hasibuan, 1993).

2.2.2           Jenis – Jenis Industri

Dalam buku Ekonomi Industri karangan Nurimansjah Hasibuan, industri dibagi menjadi sembilan sektor yaitu:

  1. Sektor Pertanian
  2. Sektor Pertambangan Dan Pengolahan
  3. Sektor Industri Pengolahan
  4. Sektor Industri Listrik, Air Minumdan Gas
  5. Sektor Konstruksi
  6. Sektor Pengangkutan Dan Komunikasi
  7. Sektor Perdagangan
  8. Sektor Lembaga Keuangan
  9. Sektor Jasa Lainnya.

Tetapi ada lebih banyak industri yang diperinci menurut golongan besar industri dan kelompok besar industi. Berikut adalah industri-industri tersebut yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik:

  1. A. Golongan besar industri – Industry division
  1. Industri makanan, minuman dan tembakau (Manufakture of food, beverage and tobacco)
  2. Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit (Textile, wearing apparel and leather industri)
  3. Industri kayu dan barang-barang dari kayu termasuk peralatan rumah tangga dari kayu. (Manufakture of wood and wood products, including furniture)
  4. Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan dan penerbitan. (Manufakture of paper and paper products, printing and publishing)
  5. Industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan barang-barang dari plastik  (Manufakture of chemical and chemicals, petroleum, coal, rubber and plastic products.)
  6. Industri barang galian bukan logam, kecuali minyak bumi dan batu bara. (Manufacture of non metalic mineral products, except products of petroleum and coal.)
  7. Industri logam dasar. (Basic metal industries.)
  8. Industri barang dari logam, mesin dan perlengkapannya. (Manufacture of fabricated metal productsw, machinery and equipment.)
  9. Industri pengolahan lainnya (Other manufacturing industries.)

  1. B. Kelompok besar industri – Industry major group
  1. Industri bahan makanan (Food manufakturing)
  2. Industri minuman (Beverage industries)
  3. Industri tembakau (Tobacco manufacturing)
  4. Industri tekstil (Manufature of textiles)
  5. Industri pakaian jadi (Manufacture of wearing apparels)
  6. Industri kulit, barang dari kulit dan kulit imitasi (Manufacture of leather, product of leather and leather substitutes)
  7. Industri barang untuk keperluan kaki dari kulit. (Manufacture of footwear)
  8. Industri kayu dan barang dari kayu, rotan, bambu dan sejenisnya (Manufacture of wood, cork product except furniture)
  9. Industri alat-alat rumah tangga. (Manufacture of furniture and fixture)
  10. Industri kertas dan barang dari kertas (Manufacture of paper and paper products)
  11. Industri percetakan, penerbitan dan sejenisnya (Printing, publishing and allied industries)
  12. Industri kimia. (Manufacture of industrials chemicals)
  13. Pembersihan dan pengolahan minyak tanah. (Petroleum refineries)
  14. Industri mcam-macam hasil minyak tanah dan batu bara. (Manufacture of miscellaneous products of petroleum and coal)
  15. Industri hasil dari karet. (Manufacture of rubber products)
  16. Industri barang dari plastik. (Manufacture of plastic products)
  17. Industri barang keramik, porselin, tanah liat dan batu. (Manufacture of pottery, china and clay products)
  18. Industri gelas dan barang dari gelas. (Manufacture of glass and glass products)
  19. Industri semen, kapur dan barang dari semen. (Manufacture of cement, lime and cement products.)
  20. Industri bahan bangunan dari tanah liat. (Manufacture of structural clay products)
  21. Industri bahan galian bukan logam. (Manufacture of other non metallic mineral products)
  22. Industri dasar besi dan baja. (Iron and steel basic industries)
  23. Industri dasar non ferrous metal. (Non Ferrous metal basic industries)
  24. Industri baran dari logam. (Manufacture of fabricated metal products)
  25. Industri mesin kecuali mesin listrik. (Manufacture of machinery except electrical)
  26. Industri mesin listrik, perlengkapan dan bagian-bagiannya (Manufacture of electrical machinery, apparatus, appliancies and supplies)
  27. Industri alat-alat pengangkutan (Manufacture of transport equipment)
  28. Industri alat pengetahuan, timbangan, alat penelitian, alat foto dan optik

(Manufacture of professionil andscientific, measuring and controllingequipment and of potographic and optical goods)

  1. Industri pengolahan lainnya (Other manufacturing industries.)

KERANGKA PIKIR

BAB III

PEMBAHASAN

3.1       Gambaran Umum Kondisi GDP Indonesia dan Thailand

GDP Indonesia dan Thailand dalam Dunia Internasional

3.1 Analisis GDP Indonesia dan Thailand periode 2000-2005 secara umum.

  1. Analisis GDP keseluruhan

Dalam Tabel Data 3.1 dapat dengan jelas kita lihat bahwa total output yang dihasilkan di Indonesia selalu bertambah dari tahun ke tahun. Namun persentase peningkatannya masih belum stabil. Loncatan besar terjadi di tahun 2001 dan 2005 dengan pertumbuhan GDP masing-masing sebesar 21,2% dan 20,0%, hal ini dikarenakan kontribusi yang jauh lebih baik dari setiap sektor dibanding tahun sebelumnya, walaupun pada tahun 2001, pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian mengalami minus, namun dapat ditutupi oleh pertumbuhan sektor Industri sebesar 17,6%, sedangkan di tahun 2005, semua sektor mengalami peningkatan yang berarti, namun yang paling menonjol adalah peningkatan sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 34,2% dan sektor Industri sebesar 12,2%. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi di tahun 2004, yaitu sebesar 7,1%, dikarenakan kecilnya pertumbuhan masing – masing sektor.

Sedangkan dalam tabel 3.2 dapat disimpulkan bahwa GDP Thailand selalu meningkat sejak tahun 2000. Loncatan tertinggi dialami dalam dua tahun terakhir dimana masing-masing 9,7% di 2004 dan 9,2% di 2005. Hal itu disebabkan oleh membaiknya pertumbuhan setiap sektor dengan pertumbuhan yang  selalu positif. Pertumbuhan yang cukup pesat dialami sektor Industri dimana mengalami pertumbuhan sebesar 8,76% di tahun 2004 dan  9,97% di tahun 2005. Sedangkan sektor Bank dan Lembaga keuangan lainnya juga tumbuh cukup signifikan sebesar 18,4% di tahun 2004 dan sebesar 17,2% di tahun 2005. Pada tahun 2001, Thailand mengalami pertumbuhan GDP terendah, saat itu Thailand menghasilkan GDP sebesar 5.132.631 milliar Bath, jumlah itu lebih baik daripada tahun sebelumnya sebesar 4.924.251 milliar Bath, sehingga mengalami pertumbuhan GDP sebesar 4,2%, namun sesungguhnya bila nilai tersebut diakumulasikan dengan kurs Bath dengan US$ saat itu, GDP Thailand mengalami penurunan sebesar 9,5%.

  1. Analisis Distribusi GDP menurut Penggolongan Sektor.

Dari Tabel Hasil Analisis 3.1 dapat disimpulkan bahwa kontribusi terbesar dalam pembentuk GDP Indonesia dan Thailand dalam 6 tahun terakhir adalah Sektor Tersier. Di Indonesia, sektor Tersier memiliki kontribusi rata-rata output US$ 86 billion. Sedangkan sektor Tersier di Thailand dalam 6 tahun terakhir juga cenderung meningkat, sehingga mendapatkan rata-rata sebesar US$  66,5 billion.

Sedangkan sektor Primer menyumbangkan kontribusi terendah bagi kedua negara, dengan nilai rata-rata US$ 56,4 billion bagi Indonesia dan di Thailand mencapai US$ 17,4 billion secara rata-rata dalam 6 tahun terakhir, walau setiap tahun nilainya selalu bertambah.

  1. Analisis Kontribusi GDP menurut Penggolongan Sektor

Dari tabel hasil analisis 3.2 dapat dilihat bila sektor Tersier memberikan kontribusi yang paling banyak bagi kedua negara dalam 6 tahun terakhir, namun perbedaannya, sektor tersier memiliki grafik kontribusi yang cenderung meningkat setiap tahun, sehingga memiliki rata-rata hampir 40%. Sedangkan kontribusi sektor Tersier di Thailand cenderung menurun, setelah memiliki kontribusi hampir mencapai 50% di tahun 2000, di tahun 2005 hanya menyumbangkan 46% bagi GDP.

Sedangkan sektor Primer menjadi penyumbang terkecil bagi GDP Indonesia dan Thailand, kecenderungan kontribusi yang selalu menurun di GDP Indonesia dapat dilihat dari kontribusi sebesar 27,5 di tahun 2005 hingga tinggal menjadi 23,7 di akhir 2005. sehingga  rata-ratanya sebesar 24,8%. Sedangkan di Thailand, sektor ini dapat dikatakan mulai merangkak naik dalam menyumbangkan GDP, walau masih belum signifikan dari 11,4% di Tahun 2000, hingga mencapai 13% di 2005, sehingga memiliki rata-rata sebesar 12,2%.

Dari data ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pada perubahan struktur GDP di Indonesia secara penggolongan sektor selama 2000 – 2005.

  1. Analisis GDP Perkapita  Indonesia dan Thailand

GDP dapat digunakan sebagai instrumen mencari GDP perkapita suatu negara, namun nilai yang dapat dipakai adalah nilai GDP Riil atau berdasarkan tahun dasar. Berdasarkan data GDP Thailand dan Indonesia diatas, dapat dipastikan Indonesia unggul jauh terhadap Thailand secara nilai output dalam 6 tahun terakhir, namun setelah dianalisis, GDP perkapita Thailand lebih tinggi dibandingkan Indonesia selama tahun 2000 – 2005, mengapa? Karena terdapat faktor yang sangat berpengaruh, yaitu populasi negara tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Thailand lebih produktif dibanding masyarakat Indonesia walaupun Indonesia unggul dalam jumlah GDP.

3. 3. Sektor Industri Sebagai Pembentuk GDP di Indonesia dan Thailand periode tahun 2000-2004.

3.3.1    Gambaran Umum Sektor Industri Indonesia.

3.3.2    Gambaran Umum Sektor Industri Thailand

3.4 Analisis Sektor Industri Indonesia dan Thailand periode 2000 – 2004. Secara Umum.

1. Laju Pertumbuhan Sektor Industri

Dari Tabel Hasil Analisis 3.4 Diatas dapat dilihat bahwa Laju pertumbuhan Sektor Industri di kedua negara selalu meningkat, namun masih belum stabil. Indonesia sempat mencatat laju pertumbuhan mengesankan sebesar 31,31% di tahun 2001 dan 22,01% di tahun 2005. Sedangkan di Thailand, Laju pertumbuhan sektor Industri tidak terlalu ekstrim dalam 5 tahun terakhir. Perumbuhan dua digit sebesar 12,34% hanya dialami pada tahun 2003, persis disaat Indonesia mencatatkan Laju pertumbuhan terkecilnya sebesar 6,84%.

Secara Rata-rata, Indonesia lebih unggul dalam laju pertumbuhan selama 5 tahun terakhir, dengan 15,53%, sedangkan Thailand hanya mencatatakan pertumbuhan rata-rata 8,37%.

2. Kontribusi Sektor Industri Sebagai Pembentuk GDP.

Kontribusi sektor Industri sebagai salah satu faktor pembentuk GDP dapat kita lihat di tabel hasil analisis 3.5, dimana Indonesia dan Thailand menempatkan sektor Industrinya sebagai andalan kedua setelah sektor jasa dalam pembentukan GDP. Namun kontribusi sektor ini di Thailand masih lebih unggul dibanding Indonesia. Dalam 6 tahun terakhir, Sektor Industri Indonesia mencatatkan peranan yang mengesankan (terus membaik) hanya pada tahun 2000 samapi tahun 2002 saja, setelah itu peranan sektor ini cenderung menurun sampai pada angka 28,59% di tahun 2005. secara rata-rata, sektor Industri mencatat persentase sebesar 29,02%

Sedangkan di Thailand, sektor ini masih sangat menjanjikan dalam usaha meningkatkan GDP, kontribusi sektor ini masih cenderung stabil dalam 6 tahun terakhir di angka 33-34% setiap tahunnya.

3. Kontribusi Indusrti non-Migas Terhadap Industri dan GDP Nasional.

a.         Indonesia.

Dari tabel hasil analisis 3.6, dapat dilihat bahwa sektor Industri non migas masih menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sektor yang terlihat paling menonjol adalah Industri Makanan, minuman dan Tembakau yang menghasilkan kontribusi rata-rata sebesar 30,2% bagi sektor Industri non migas dan sebesar 7,67% bagi GDP secara keseluruhan. Hal ini sangat wajar karena harus memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia yang sangat banyak. Namun sektor ini cenderung menurun kontribusinya selama 5 tahun terakhir, karena lebih memprioritaskan pada Industri berat, seperi Alat angkut, mesin, dan peralatannya, yang dalam 5 tahun terakhir memiliki kecenderunagn meningkatkan kontribusinya sampai mencapai 22,5% di tahun 2005 setelah hanya menyumbangkan kontribusi sebesar 20,7% di tahun 2000.

  1. b. Thailand

Dari tabel hasil analisis 3.7, dapat dilihat bahwa sektor Makanan, Minuman dan Tembakau, sektor Tekstil, Barang Kulit dan alas kaki serta sektor Alat angkut, Mesin dan Peralatannya hampir berbagi kontribusi yang seimbang dalam 5 tahun terakhir, dengan rata-rata masing – masing sebesar 20,88%, 19,60%, dan 29,08% sebagai pembentuk sektor Industri non migas.     Kecenderungan menurunnya sektor Industri Makanan dan Tekstil memang dapat dipahami karena prioritas untuk semakin meningkatkan Industri Alat angkut dan peralatan berat lainnya. Peningkatan sektor Industri alat angkut, Mesin dan Peralatannya ini sangat menolong kondisi perekonomian Thailand, karena sektor ini akan banyak menyerap tenaga kerja.

  1. 3. Kontribusi Industri Migas Terhadap Industri dan GDP Nasional

Perbedaa nilai sektor migas di Indonesia dan Thailand memang sangat ekstrim, karena Thailand hanya memiliki Sumber Daya Alam yang terbatas. Namun dalam tahun terakhir, sektor Industri migas Indonesia mengalami depresiasi sehingga mencapai US$ 9,9 million, dari US$ 11,7, begitu juga di Thailand yang hanya dapat memproduksi US$ 2,4 million dari US$3,2 million di 2003. Hal ini tentu saja mempengaruhi kontribusi sektor ini, baik terhadap sektor Industri maupun GDP secara keseluruhan.

3.5 Analisis Faktor – Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perbedaan Struktur Pembentuk GDP di Sektor Industri antara Indonesia dan Thailand 2000-2005 Secara Umum.

  1. 1. Dari Sisi Politik.
  • Kestabilan Politik.

Stabilitas Politik di Indonesia yang masih dalam masa transisi kekuasaan dari era Orba ke Reformasi dimana masih adanya kebijakan pemerintah yang dinilai masih buruk yang menyebabkan sering terjadinya demonstrasi dimana-mana sehingga membuat para investor tidak berani mengambil resiko untuk menanamkan modalnya. Berbeda dengan Thailand yang memiliki keadaan politik yang relatif stabil. Di Thailand bisa dikatakan relatif tidak ada penjarahan, tidak ada heboh serikat pekerja, tidak ada gerakan separatisme, tidak ada pertikaian etnis, dan pertarungan kekuatan politik minim, tidak ada pertarungan kepemimpinan sipil versus militer. Hal tersebut sangat kondusif bagi pengembangan ekonomi, dan Thailand bebas dari cap negara yang dianggap tidak aman seperti Indonesia.

  • Perhatian dan Pengawasan Pemerintah.

Perhatian Pemerintah dapat dilihat dari penyediaan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan perekonomian, khususnya industri. Pada infrastruktur dapat kita lihat bahwa jalan-jalan banyak yang rusak, entah itu di luar kota maupun dalam kota. Listrik di berbagai daerah sudah byar-pet karena kekurangan tenaga, saluran telepon terkadang masih sulit memperolehnya, dan lain-lain. Tidak tersedianya infrastruktur yang memadai tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya investasi di negeri kita Rendahnya investasi pada gilirannya akan berpengaruh terhadap produk domestik bruto (PDB). Dan tentu saja kinerja ekspor juga tidak akan melambung tinggi. Sampai saat ini nilai ekspor Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan Thailand.

  • Koordinasi Antar Lembaga yang tidak efektif.

Dalam rangka mengimplementasikan kebijakan industri yang telah dirumuskan, perlu mendapatkan komitmen dan dukungan dari Instansi/Departemen lain, utamanya yang berkaitan terhadap :

a. Pengembangan Lingkungan Bisnis

b. Pengembangan Infrastruktur

c. Pengembangan Investasi

d. Pengembangan Pasar

e. Pengembangan Kemampuan Tenaga Kerja Industrial

f. Pengembangan Teknologi Industri; dan

g. Pengembangan Bahan Baku / Penolong

Namun pada kenyataannya, Koordinasi antar Lembaga yang ada masih minim, hal ini berbeda dengan kondisi Instasi Pemerintahan di Thailand yang menempatkan Instasi yang terkait dalam satu tim koordinasi.

  • Kesenjangan Pembangunan Daerah

Sejak diberlakukannnya otonomi daerah di Indonesia, seharusnya pemerintah sudah mengantisipasi banyaknya daerah – daerah yang memiliki askes yang terbatas dalam pembangunan Industri sehingga daerah tersebut telah diberikan solusi dalam mengembangkan perindustrian yang memungkinkan untuk dilakukan. Namun kenyataannya, kesenjangan pembangunan Industri di Indonesia sangat terasa, apalagi bagi masyarakat di luar Jawa dan Sumatra. Berbeda dengan Thailand sejak Thaksin menjadi kepala pemerintahan yang paham betul kalau daerah – daerah yang terisolir seperti itu dapat diberdayakan program Industri Kecil dan Menengah dan Pemerintah terus mengawasi dan memfasilitasi. Sehingga Thailand berhasil menekan angka pengganguran, menambah output dan menambah kesejahteraan masyarakatnya.

  1. 2. Dari sisi Ekonomi
  • Modal dan Investasi

Ada beberapa permasalahan berkaitan dengan iklim investasi di Indonesia, antara lain :

  1. Ketidakpastian Kebijakan
  2. Korupsi
  3. Tingkat Pajak
  4. Penegakan Hukum
  5. Keterampilan pekerja.
  6. Infrastruktur, dan
  7. Penyederhanaan Perizinan

Untuk faktor yang terakhir, memang sangat disayangkan bisa terjadi di negara yang sangat butuh investasi asing seperti Indonesia. Kalau melihat perbedaan dengan negara lain, misalnya Malaysia, Thailand, ataupun Vietnam, seharusnya ada streamlining atau penyederhanaan izin. Kasarnya, untuk yang tidak perlu, enggak usah pakai izin. Atau kalaupun izin masih diperlukan, ditempatkan di satu titik.Semua kegiatan yang terkait dengan investasi ini harus di bawah satu paket, yang dinamakan UU Penanaman Modal. Jadi, semuanya dalam satu payung, sehingga masalah seperti yang sekarang tidak ada lagi. Seperti di Thailand, Kepala BKPM- nya adalah Perdana Menteri (PM) Thailand. Iklim investasi di Indonesia kurang menarik dibandingkan dengan yang lain.

Atas dasar indikator stabilitas makro, korupsi, penegakan hukum, dan pajak, sebuah lembaga survei internasional mendudukkan Indonesia di peringkat 60, jauh lebih rendah dari Malaysia (26) dan Thailand (31). Selain faktor itu, masalah perburuhan, infrastruktur, perizinan, kepabeanan, dan keamanan masih terus membebani investasi di Indonesia.

  • Inflasi

Inflasi dapat mempengaruhi kinerja sektor industri, terutama dalam memenuhi bahan baku. Menurut data, Inflasi di Indonesia dari tahun 2000-2005, masing-masing 9,35%; 12,55% ;10% ; 5,10%, 6,15% dan 10,7% sedangkan Thailand tidak pernah mengalami double digit inflation, menurut data, inflasi di Thailand selama 2000-2005 masing-masing sebesar 1,5% ; 0,8% ; 1,6% ;1,8% ; 2,95% dan 5,1%. Sehingga produk Thailand lebih kompetitif di pasar.

  • Industri Kecil Menengah (IKM)

Di Indonesia Industri besar menghasilkan sekitar 62% dari total PDB Industri, sedangkan industri menengah hanya menghasilkan sekitar 17%, terlebih lagi Industri Kecilnya. Hal ini mengandung kerawanan tinggi bagi perekonomian, yang dengan adanya krisis menyebabkan rontoknya usaha-usaha besar, yang berdampak pada rontoknya pertumbuhan industri. Idealnya struktur yang kuat yaitu PDB industri kecil ditambah dengan PDB industri menengah harus lebih besar dari PDB industri besar, atau minimal seimbang.

Pembangunan ala Thailand, khususnya ala Thaksin yang memprioritaskan kepada pertumbuhan IKM-nya, karena sektor inilah yang menempung banyak tenaga kerja dan dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian. Thailand memang membuka pintu investasi lebar-lebar bagi perusahaan asing, namun Thailand tetap menjaga eksistensi dari sektor IKM dan terus diawasi dan difasilitasi.

Berbeda dengan Indonesia yang ingin pertumbuhan yang instan dengan mengundang investor besar tanpa mempedulikan sektor IKM sebagai fondasi awal yang kuat, sehingga akibatnya dapat dilihat saat terjadi krisis moneter, dimana banyak perusahaan dengan modal besar langsung gulung tikar.

  • Daya Saing  Produk Industri

Masih terbatasnya penguasaan pasar domestik akibat masih lemahnya daya saing produk Indonesia bila dibandingkan dengan produk Thailand yang beredar di pasaran. Hal ini disebabkan oleh ekonomi biaya tinggi yang diterapkan di Indonesia,  yang pada akhirnya jelas biaya akan dikompensasikan terhadap harga jual barang yang akan diekspor atau pun harga produk yang berbahan mentah impor. Dengan begitu pada gilirannya, harga produk Indonesia kurang bisa bersaing dengan produk negara pesaing. Selain itu daya saing industri Indonesia yang melemah juga disebabkan oleh adanya kesalahan strategi Indonesia yang terlalu memproteksi produk dalam negeri terhadap produk luar sehingga menyebabkan kelengahan produk luar negeri untuk meningkatkan kualitas daya saing produk.

  • Kebijakan Impor Bahan Baku

Kalau ditinjau dari segi sumber daya alam, Indonesia mempunyai kelebihan dengan banyaknya kekayaan alam dibandingkan dengan Thailand seperti barang tambang dan minyak, namun karena keterbatasan dana, tehnologi dan sumber daya manusia yang menyebabkan sumber daya yang ada masih belum optimal digunakan sebagai faktor penunjang industri. Seharusnya kita tidak perlu mengimpor bahan baku dari negara lain karena akan lebih murah apabila kita bisa memproduksi bahan baku untuk industri kita sendiri. Pada kenyataanya kita masih ada ketergantungan untuk mengimpor bahan baku dari negara lain yang harganya relatif mahal dan menyebabkan harga yang tinggi sehingga barang tidak kompetitif di pasar. Berbeda dengan Thailand yang justru mendapat keuntungan eksternal untuk meningkatkan industrinya dengan supply bahan baku seperti katu gelondongan, rotan, karet, minyak sawit dengan harga yang sangat murah dari Indonesia sehingga industrinya semakin kuat dan kompetitif.

  1. 3. Dari Segi Teknologi
  • Penguasaan Tehnologi dan Keterbatasan Industri Bertehnologi Tinggi

Dalam penggunaan tehnologi Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Thailand. Hal ini antara lain disebabkan masih banyaknya dunia usaha Indonesia yang bergantung pada tehnologi luar negeri, atau tehnologi perusahaan induknya, disamping masih terbatasnya akses terhadap sumber-sumber informasi, tehnologi, serta pelayanan Iptek. Selain itu kondisi struktur industri saat ini sebagian besar didominasi oleh industri berbasis tehnologi rendah dan menengah meliputi industri padat tenaga kerja dan industri berbasis SDA, yang mempunyai nilai tambah relatif rendah. Berbeda dengan Thailand dimana akses terhadap tehnologi tersedia secara mudah  yang berakibat masyarakat Thailand meiliki penguasaan tehnologi yang lebih baik dari masyarakat Indonesia.

  • Produktivitas dan kualitas Sumber Daya Manusia

Dalam hal potensi sumber daya manusia, sebenarnya  Indonesia tidak kalah dengan Thailand, akan tetapi sumberdaya manusia Indonesia belum terdayagunakan secara optimal.Hal ini antara lain disebabkan masih rendahnya produktivitas karena rendahnya pendidikan atau pelatihan terutama yang berbasis tehnologi yang diperoleh pada sebagian masyarakat.

Sebenarnya adanya jumlah penduduk Indonesia yang besar tidak saja dapat  merupakan modal bagi tumbuhnya industri yang berbasis tenaga kerja, tetapi juga industri yang berbasis padat Iptek. Namun  besarnya jumlah penduduk tersebut tidak dimbangi dengan ketersediaan akses terhadap tehnologi yang berakibat rendahnya kualitas SDM. Tanpa adanya kualitas SDM yang handal dan tingkat produktivitas yang tinggi, industri nasional akan selalu tertinggal dengan industri di negara pesaing, seperti Thailand.

  1. Dari segi Penegakan dan Kepastian Hukum

Dalam hal penegakan hukum dan kepastian hukum, Indonesia kurang dapat memberikan jaminan serta kepastian hukum. Berbeda dengan Thailand dimana terdapat penegakan hukum yang tegas. Hal ini terbukti dengan adanya proses peradilan khusus (satu tahap) untuk pejabat tinggi atau politik yang korup.Dimana keputusan MA Thailand  yang bersifat final, tidak bisa dibanding atau kasasi. Di sinilah kekhususan sistem penuntutan dan peradilan pidana korupsi yang melibatkan pejabat tinggi dan politik. Berbeda dengan kasus-kasus korupsi di Indonesia yang  biasanya ditangani melalui melalui pengadilan bertingkat yang memakan waktu relatif lama. Hal ini tentu berakibat enggannya investor untuk berinvestasi di Indonesia.

BAB IV

PENUTUP

4.1       KESIMPULAN

Dari analisis masalah yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan

  1. Bahwa pertumbuhan rata-rata  GDP Indonesia periode 2000-2005 sebesar 13,6% sedangkan Thailand sebesar 7,4%,
  2. Struktur pembentuk GDP antara Indonesia dan Thailand dalam enam tahun terakhir relatif sama di awali dengan Sektor Tersier yang sangat berperan, Sektor Sekunder yang terus meningkat, dan Sektor Primer dengan kontribusi terkecil.
  3. Bila dihitung dalam GDP per kapita Thailand lebih unggul daripada Indonesia walaupun total GDP Indonesia lebih besar.
  4. Kontribusi sektor industri Indonesia  pada periode 2000-2005 hanya sekitar 29,02% terhadap gross domestic product (GDP) Indonesia sedangkan Thailand   sangat menjanjikan dengan mencapai 33-34% pada periode yang sama.
  5. Terdapat perbedaan mendasar yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam struktur  pembentuk GDP khususnya dalam sektor industri yakni :
  • Aspek Politik :  Kestabilan politik, perhatian dan pengawasan pemerintah, koordinasi antar lembaga yang tidak efektif,  serta kesenjangan pembangunan daerah
  • Aspek Ekonomi : Modal dan investasi, Inflasi, Industri kecil dan menengah, serta, Daya saing produk industri.
  • Aspek Tehnologi : Penguasaan tehnologi dan keterbatasan industri bertehnologi tinggi,  produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.
  • Aspek penegakkan dan kepastian hukum

4.2       SARAN

  1. Diharapkan pemerintah dapat meningkatkan kontribusi sektor industri Gross Domestic Product melalui pengembangan Industri Kecil dan Menengah, membuat kebijakan- kebijakan yang  berorietasi pada peningkatan  sektor industri khususnya menyeimbangkan kontribusi sektor Industri Kecil dan Menengah dengan Industri Besar, serta memperkuat jaringan kerjasama (networking) antara Industri Besar dengan Industri Kecil dan Menengah sehingga menciptakan struktur perekonomian yang ideal.
  2. Masyarakat dan pemerintah diharapkan mampu bekerjasama untuk menciptakan penegakkan hukum sehingga menciptakan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia.
  3. Pemerintah diharapkan  dapat memperhatikan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan atas ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam upaya peningkatan kontribusi sumber daya manusia dalam peningkatan sektor industri.
  4. Penelitian ini hanya berusaha untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan struktur pembentuk GDP pada sector industri antara Indonesia dengan Thailand periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2005.

DAFTAR PUSTAKA

Case, Karl E, Fair, Ray .C. 2004. Prinsip – Prinsip Ekonomi Makro : PT Indeks, Jakarta

Hasibuan, Nurimansyah. 1993. Ekonomi Industri Persaingan Monopoli dan Regulasi : LP3ES, Jakerta

Lipsey, Richard G, Courant, Paul, Purvis, D. Douglas, Stenier, Paul O. 1995. Pengantar Makroekonomi : Binarupa Aksara, Jakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi : Erlangga, Jakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makroekonomi : Erlangga, Jakarta.

Samuelson, Paul A, Nordhaus . 1997. Makro Ekonomi : Erlangga , Jakarta.

Tambunan, Tulus T.H. 2000.Perekonomian Indonesia : Ghalia Indonesia, Jakarta.

Siaahan, Bisuk. 2000. Industrialisasi di Indonesia. : ITB, Bandung.

Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar : PT. Raja Graphindo Persada, Jakarta.

_______ , Sensus Ekonomi Statistik Industri Besar dan Sedang. 1986 : Biro Pusat Statistik, Jakarta.

_______ , http//www.bi.go.id : Bank Indonesia.

_______ , http//www.bot.go.org : Bank of Thailand.

_______ , http//www.deperin.go.id : Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

_______ , http//www.adb.go.org : Asian Development Bank.

_______ , http//www.worldbank.com : World Bank.

_______ , http//www.imf.com : International Monetery Foundation.

_______ , http//wikipedia.com. Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indomesia.

_______ , http//kompas.co.id : Kompas Cyber Media.

_______ , http//republika.co.id : Republika Cyber Media.

_______ , http//antikorupsi.org : Indonesian Coruption Watch.

_______ , http//suaramerdeka.co.id : Suara Merdeka Cyber Media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: